JOURNAL
MENGENAL LEBIH DEKAT GIANT OOCYTE
Author : IAIVF | 07 November 2017

MENGENAL LEBIH DEKAT GIANT OOCYTE

Apa Itu Giant Oocyte?

Secara umum, oosit manusia yang matur memiliki bentuk bulat dengan ukuran rata-rata 120 µm.  Namun faktanya, terkadang ditemukan oosit dengan morfologi ataupun ukuran yang berbeda dengan oosit normal pada umumnya. Salah satu fenomena yang dapat ditemukan di lab IVF yaitu giant oocyte. Oosit tersebut memiliki ukuran yang secara kontras lebih besar (dapat mencapai 200 µm) dibandingkan oosit normal ketika diamati di bawah mikroskop [Rienzi dkk. 2012].

Mengapa Ada Giant Oocyte?

Terdapat dua hipotesis penyebab terbentuknya giant oocyte:

·         Pertama, giant oocyte diduga berasal dari proses penggabungan  sitoplasma 2 buah oogonia.

·         Kedua, giant oocyte terbentuk sebagai akibat telah terjadinya kegalalan sitokinesis pada 1 oogonium selama proses pembelahan mitosis. Dalam arti lain, telah terjadi pembelahan inti namun proses pemisahan sitoplasma mengalami kegagalan.

 

Giant Oocyte Berkaitan Dengan Triploidy?

Jika oosit normal yang telah matur dan belum terfertilisasi secara umum bersifat haploid, giant oocyte justru diketahui bersifat diploid, sehingga seringkali dikaitkan sebagai penyebab terjadinya dyginic triploidy. Dyginic triploidy merupakan salah satu bentuk triploidy yang berasal dari proses fertilisasi 1 oosit abnormal yang diploid (2n) dengan 1 sperma haploid (n) [Rosenbusch dkk. 2002; Rienzi dkk. 2012; Baykal dkk. 2017].

Dugaan bahwa unfertilized giant oocyte diploid didukung oleh hasil penelitian Baykal dkk. (2017), dimana giant oocyte pada tahap kematangan MII (matur) yang diamati dengan mikroskop polarisasi memiliki 2 buah badan polar dan 2 buah benang spindel.

Setelah dilakukan Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI) pada oosit tersebut, nampak zigot dengan 3 buah pronukleus (3pn) ketika diamati keesokan harinya. Zigot tersebut selanjutnya berkembang menjadi embrio dengan 5 blastomer pada hari ke-2 dan 10 blastomer pada hari ke-3 serta memiliki kualitas yang baik secara morfologi.

Embrio tersebut selanjutnya dibiopsi untuk dilakukan preimplantation genetic diagnosis (PGD). Hasil PGD menunjukkan bahwa embrio tersebut memiliki 3 kopi pada sejumlah kromosom yang menandakan triploidy, contohnya pada kromosom nomor 14 dan 16.

 

Kualitas Embrio yang Berasal dari Giant Oocyte?

Giant oocyte yang telah berhasil terfertilisasi tak jarang mampu  menghasilkan embrio dengan morfologi yang baik. Embrio tersebut memiliki kapabilitas untuk berkembang dan melakukan proses pembelahan secara normal, bahkan sebagian embrio mampu mencapai tahap blastokista. Berikut contoh embrio dari giant oocyte yang dapat mencapai tahap blastokista dengan morfologi normal. Meskipun menunjukkan morfologi yang nampak normal, faktanya embrio yang berasal dari giant oocyte secara umum memiliki abnormalitas kromosom (triploidy).

Keberadaan Giant Oocyte Memengaruhi Pregnancy Rate?

Keberadaan 1 atau lebih giant oocyte dari total keseluruhan oosit yang diperoleh pasca OPU (Ovum Pick-up) diketahui tidak memengaruhi keberhasilan kehamilan. Hasil penelitian Machtinger dkk. 2011 menunjukkan bahwa tingkat  keberhasilan implantasi embrio, clinical pregnancy dan ongoing pregnancy rate tidak berbeda signifikan antara kelompok pasien yang memiliki 1 atau lebih giant oocyte dengan kelompok pasien yang tidak memiliki giant oocyte sama sekali.  Meskipun keberadaan giant oocyte tidak memengaruhi keberhasilan kehamilan, penggunaan embrio dari giant oosit untuk proses transfer tetap tidak dianjurkan mengingat embrio tersebut secara umum memiliki kelainan kromosom (terkecuali hasil pemeriksaan PGD telah menyatakan bahwa embrio tersebut memiliki kromosom yang normal) [Baykal dkk. 2017; Rienzi dkk. 2012].